Minggu, 19 Juli 2020

Pentingnya "Hardskill" dan "Softskill" dalam Dunia Karir

Hard skill adalah keahlian utama yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan lebih tepatnya ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya  sedangkan Soft skill adalah kemampuan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri dan kemampuan berhubungan dengan orang lain.
Banyak perusahaan mencantumkan persyaratan hard skill pada iklan lowongan kerja begitu pun juga dengan soft skill. Namun biasanya banyak perusahaan yang tidak mencantumkan persyaratan soft skill pada iklan lowongan kerja kecuali untuk pekerjaan yang terkait berhubungan dengan masyarakat. Kenapa hard skill selalu di prioritaskan perusahaan dalam iklan lowongan kerja? Karena perusahaan lebih membutuhkan calon karyawan yang benar-benar memiliki hard skill yang baik untuk di tempatkan di posisi yang kosong.
Hard skill yang telah kita pelajari dari bangku sekolah dan kuliah sebaiknya harus ditingkatkan lagi. Semakin bagus hard skill yang kita kuasai semakin tertarik perusahaan untuk merekrut Anda. Ketika Anda sudah bekerja tidak ada salahnya untuk memperdalam ilmu hard skill yang Anda kuasai. Anda akan menjadi andalan perusahaan jika memiliki hard skill yang baik karena di setiap pekerjaan/profesi itu di tuntut memiliki hardskill.
Sementara itu, soft skill adalah kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain dan mengatur emosi dalam diri. Soft skill itu kepribadian, karakteristik, daya tarik sosial, kemampuan berbahasa, kepeduliaan serta optimisme. Soft skill dalam dunia karir khususnya untuk Anda yang sedang bekerja di suatu perusahaan sangatlah penting. Anda memiliki soft skill yang baik dapat memotivasi diri dan orang lain, beradaptasi dengan lingkungan, membangun relasi, kerja sama, bertanggung jawab dan masih banyak lagi.
Itulah pentingnya hard skill dan soft skill dalam dunia karir. Dan alangkah baiknya bila kita menyeimbangkan antara hard skill dan soft skill. Untuk apa jika menguasai hard skill yang baik tapi Anda kurang dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain dan sebaliknya untuk apa menguasai soft skill yang baik tapi Anda tidak memiliki kompetensi, sama saja dengan tong kosong nyaring bunyinya.

Pengertian Hard Skill & Soft Skill

Pertama-tama, mari kita bahas soal pengertian hard skill. Pada dasarnya, hard skill adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk sebuah pekerjaan. Hal ini biasanya tertulis di kolom requirements di sebuah lowongan pekerjaan. Hard skill biasanya merupakan kemampuan spesifik dan jadi salah satu deskripsi pekerjaan kamu kelak.
Jika melansir dari laman The Balance Career, hard skill bisa kita peroleh dari edukasi formal seperti perkuliahan, serta deretan program lain seperti pelatihan, magang, kelas singkat, kelas online, program sertifikasi, dan juga training di perusahaan.
Di sisi lain, Soft Skill adalah kepribadian, atribut personal, serta kemampuan komunikasi yang dibutuhkan untuk sukses dalam sebuah pekerjaan. Baiknya soft skill yang kamu miliki memperlihatkan bagaimana kamu berinteraksi dengan lingkungan di sekitarmu.
Jika hard skill merupakan sesuatu yang bisa diraih dan dipelajari, soft skill merupakan atribut ‘bawaan’ kita sebagai individu. Hal ini mungkin bisa dipelajari, namun tidak dengan cara belajar layaknya mengenyam bangku kuliah, namun dengan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain serta melatih kepekaan terhadap lingkungan. Dari sini, kita bisa mengimplikasikannya pada perilaku dan berimbas pada soft skill.
 Mari kita simak lebih dalam ya pengertian dan apasaja yang diperlukan dalam dunia karir

Perbedaan hard skill dan soft skill

Hal paling mendasar yang membedakan antara hard skill dan soft skill adalah hard skill bisa dibuktikan, sementara soft skill tidak. Kamu bisa memproklamirkan diri memiliki hard skill selama kamu bisa membuktikannya, sementara soft skill tak serta merta bisa kamu sertakan di CV.
Berikut contoh hard skill dan soft skill.

Contoh Hard Skill

Pada poin di atas, kita sudah mempelajari soal pentingnya hard skill dan soft skill. Sekarang, mari kita bahas apa saja contoh dari hard skill dan juga soft skill.
Sesuai dengan definisinya, hard skill merupakan kemampuan spesifik yang harus dimiliki untuk sebuah pekerjaan tertentu. Contohnya, desain web, menulis, programming komputer, akuntansi, menerjemahkan bahasa asing, dan masih banyak sekali hard skill yang lainnya.
Biasanya, hard skill juga diukur dari seberapa baik kamu dalam objek hard skill yang kamu kuasai. Seperti contohnya, tingkat kefasihan bahasa asing, seberapa mahir mengoperasikan mesin, seberapa baik dalam mendesain, seberapa cepat dalam mengetik, dan lain sebagainya.
Biasanya, deretan hard skill yang kamu miliki akan kamu catat di Curriculum Vitae dan juga di surat lamaran agar perekrut bisa mendapat pertimbangan.

Contoh soft skill

Seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya, soft skill adalah atribut diri serta kemampuan berkomunikasi yang merupakan sifat bawaan dan tidak dipelajari secara formal. Soft skill ini merupakan aspek penting dalam kesuksesan karir kamu, lho. Pasalnya, setiap pekerjaan membutuhkan keterlibatan orang lain. Oleh karena itu, kemampuan kita dalam berinteraksi adalah aspek penting dalam sebuah pekerjaan.
Mari kita kupas satu demi satu apa saja yang jadi contoh soft skill. Melansir The Balance Careers, berikut ulasannya.

1. Kemampuan Berkomunikasi

Seperti yang telah disebut di atas, kemampuan berkomunikasi adalah soft skill nomor satu yang harus dimiliki oleh setiap karyawan. Kuncinya adalah bagaimana bisa meletakkan diri di berbagai situasi, di mana kita tahu kapan harus berbicara lebih sopan atau lebih santai, bisa membaca situasi yang tepat untuk beropini, dan kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik.
Berbagai contoh soft skill dengan dasar komunikasi meliputi:
  • Kemampuan bernegosiasi
  • Kemampuan persuasi
  • Kelancaran presentasi
  • Berbicara di depan umum
  • Membaca body language lawan bicara
  • Kemampuan menggunakan komunikasi non-verbal (seperti intonasi nada, gestur tangan, ekspresi wajah, dsb.)

2. Berpikir Kritis

Contoh soft skill yang kedua adalah kemampuan berpikir kritis. Apapun bidang pekerjaan yang kamu jalani, kamu diwajibkan untuk mampu menganalisis situasi dan mengambil keputusan dengan tepat.
Deretan soft skill yang terkait dengan pola pikir kritis ini meliputi:
  • Kreativitas
  • Fleksibilitas
  • Tingginya rasa ingin tahu
  • Tingginya selera artistik
  • Kemauan belajar hal baru
  • Pola pikir logis
  • Kemampuan memecahkan masalah
  • Dan lain sebagainya

3. Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan soft skill yang akan membawa kamu menjadi pemimpin di masa depan. Aspek ini menitikberatkan pada kemampuan pengambilan keputusan di masa pelik, dan bagaimana menangani orang banyak di situasi tertentu.
Soft skill yang termasuk dalam kategori kepemimpinan meliputi:
  • Kemampuan manajemen konflik
  • Pengambilan keputusan
  • Kemampuan mentoring
  • Kemampuan supervisi
  • Dan lain sebagainya

4. Perilaku Baik

Jika kamu memiliki semua hard skill dengan kemampuan yang mumpuni, semua hal tersebut akan percuma jika tidak dibarengi dengan perilaku yang baik. Berbagai hal seperti pribadi ramah, bersemangat kerja, atau berbagai hal positif lainnya, tentu akan menambak efektivitas kerja.
Berikut beberapa soft skill yang termasuk dalam aspek perilaku baik:
  • Kepercayaan diri
  • Kooperatif dalam tim
  • Antusiasme tinggi
  • Kejujuran
  • Kesabaran
  • Selera humor yang baik
  • Pembagian waktu yang imbang antara kerja dan kehidupan luar kantor
  • Dan lain sebagainya

5. Kerja Tim

Jangan berharap untuk diterima untuk bekerja sendiri. Salah satu tanggung jawab paling besar dalam mengenyam sebuah pekerjaan adalah untuk bekerja sama dengan baik dengan karyawan lainnya. Oleh karena itu, kerja tim adalah salah satu soft skill paling penting yang harus dimiliki.
Berbagai skill yang berhubungan dengan kerja tim meliputi:
  • Kemauan berkolaborasi
  • Kemauan menerima feedback
  • Menerima keberagaman
  • Empati
  • Kemampuan berjejaring dan bersosialisasi
  • Dan lain sebagainya

6. Etos Kerja

Aspek soft skill terakhir adalah kuatnya etos kerja. Seseorang dengan etos kerja yang baik, akan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efektif waktu serta hasil yang lebih berkualitas. Soft skill yang paling berhubungan dengan etos kerja ini adalah kemampuan untuk tetap fokus, tetap terorganisir, dan mampu mengatur waktu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tak cuma itu, seseorang dengan etos kerja akan sama baiknya dalam bekerja independen maupun dalam arahan.
Berikut deretan kemampuan atau soft skill yang berhubungan dengan etos kerja:
  • Dedikasi tinggi
  • Pekerjaan yang terorganisir
  • Deadline yang terpenuhi
  • Kemampuan multitasking
  • Perencanaan yang matang
  • manajemen waktu yang baik
  • Performa yang baik di bawah tekanan
  • Dan lain sebagainya.

Bagaimana Menurut Para Ahli?

Alison Doyle, seorang pakar di bidang karir dan pencarian kerja, menyebut bahwa hard skill adalah kemampuan yang bisa dipelajari, dievaluasi, dan diukur. Doyle menyebut bahwa hard skill adalah aspek yang dilihat pertama kali oleh perekrut pada proses interview, untuk membandingkan antara satu pelamar dan pelamar lain.
Doyle juga menggarisbawahi bahwa hard skill adalah senjata utama seorang kandidat untuk menjajaki dunia kerja. Bahkan untuk mencari yang kandidat dengan hard skill paling mumpuni, korporasi maupun perusahaan berani menggelar ujian masuk yang sangat ketat.
Soal soft skill, Lindsey Pollak, pakar karir multigenerasi dan penulis buku laris “Becoming The Boss,” menyebut bahwa soft skill adalah aspek yang paling penting untuk dimiliki ketika menjajaki dunia kerja. Pasalnya, performa kamu di pekerjaan hanya dipandang sebagai ‘tugas’ belaka. Sementara sebuah ‘tugas’ itu bisa dikerjakan oleh ribuan orang lain, soft skill-lah yang membedakanmu dengan mereka dan membawamu ke tingkat yang lebih tinggi.
Dikutip dari karirpad.com/blog/ini-perbedaan-antara-hard-skill-dan-soft-skill-pahami-sebelum-masuk-dunia-kerja/

Apasih Kecerdasan IQ, EQ dan LQ yang dimaksud Oleh Jack Ma Pemilik dan Pendiri Allbaba

KOMPAS.com - Jack Ma, pendiri Alibaba dalam forum OECD di Paris Perancis (5/12/2019) menyebutkan pendidikan sebagai "masalah paling penting dan kritis" di zaman kita ini. Kekhawatirannya: dunia berubah cepat, tetapi pendidikan tidak. Di forum OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development) penyelenggara tes global PISA (Program Penilaian Pelajar Internasional) secara berani Jack Ma menyebut rumus pendidikan bukan untuk fokus pada kurikulum atau prestasi peringkat. Jack Ma justru menekankan pada "kecerdasan" dan kapasitas kemampuan siswa untuk mencintai (LQ) di samping kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan intelektual (IQ).


"Hati" tidak tergantikan mesin 
"Jika kamu ingin sukses, kamu harus memiliki EQ yang sangat tinggi, cara untuk bergaul dengan orang-orang," katanya pada konferensi OECD seperti dilansir dari World Economidc Forum (WEF).

"Jika kamu tidak ingin tersisih dengan cepat, kamu harus memiliki IQ yang baik," tambahnya. Tetapi, lanjut Jack Ma,  “Jika kamu ingin dihormati, kamu harus memiliki LQ - hasil dari mencintai,” jelasnya. "Otak akan digantikan oleh mesin, tetapi mesin tidak akan pernah bisa menggantikan hatimu," demikian alasan Jack Ma. Meski terdengar sangat klise, hal ini menjadi relevan dengan tema konferensi, di mana OECD merilis hasil terbaru tes di seluruh dunia untuk anak berusia 15 tahun. Forum membahas cara memindahkan sistem pendidikan dari "pabrik" ujian tradisional ke tempat-tempat di mana anak-anak belajar konten, tetapi juga pengetahuan diri, empati dan kolaborasi. Pendidikan: bukan menyetak lulusan siap kerja Andreas Schleicher, kepala unit pendidikan OECD  bahkan memuji pendekatan "radikal" Jack Ma. Pendidik banyak berbicara tentang perlunya reformasi holistik, tetapi para pemimpin bisnis lebih sering fokus pada pendidikan sebagai sarana untuk melatih pekerja masa depan atau menyiapkan lulusan siap kerja daripada memelihara manusia berpengetahuan luas. Schleicher mengatakan pesan utama Ma sangat tepat: kita telah menghabiskan banyak upaya tentang "bagaimana" kita memberi pendidikan kepada siswa, belum pada "apa" yang kita berikan. Di masa depan, Jack Ma mengatakan ada beberapa hal harus menjadi fokus perhatian: guru, ruang kelas, dan siswa. Jack Ma berpendapat kelas tidak boleh hanya menghabiskan 40 menit untuk diam membaca dan mengerjakan tugas atau ujian. Guru tidak boleh lagi menjadi pusat kelas sebagai "orang dengan semua pengetahuan". Menurutnya pendidik harus mulai fokus pada kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, bukan hanya mendapatkan jawaban yang benar.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jack Ma Bicara soal Pendidikan: Rumus Pendidikan IQ, EQ dan LQ", https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/11/11461611/jack-ma-bicara-soal-pendidikan-rumus-pendidikan-iq-eq-dan-lq?page=all.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Dari Kutipan berita di atas saya jadi ingin mengetahui lebih lanjut apa yang dimaksud tentang kecerdasan-kecerdasan tersebut. mari kita lihat lebih dalam hal tersebut .

1. Pengertian Kecerdasan 

Menurut wikipedia, ada beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. 
Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg & Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif.


2. Pengertian Kecerdasan Intelektual ( IQ )


Kecerdasan intelektual (bahasa Inggris: intelligence quotient, disingkat IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.

IQ merupakan kependekan dari Intelligence Quotient yang artinya ukuran kemampuan intelektual, analitis (kemampuan menganalisa), logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, IQ berkaitan pada keterampilan berbicara, kesadaran akan sesuatu di sekelilingnya dan penguasaan matematika.
Salah satu contoh sederhananya ialah apabila langit mendung, maka hari akan hujan.
Atau, papa mempercayai kita untuk meletakkan televisi di dalam kamar, namun ia melarang kita menonton televisi lewat dari jam 9 malam. Apa yang terjadi bila kita melanggarnya? Papa akan memarahi kita dan menarik fasilitas (televisi) tersebut.

3. Pengertian Kecerdasan Emosional ( EQ )

Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai,mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasiakan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.

Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
EQ adalah kemampuan berkomunikasi seseorang dalam dua dimensi, yaitu arah ke dalam (personal) dan arah ke luar (interpersonal).

Personal ialah komunikasi yang dilakukan seseorang pada dirinya sendiri. Hal ini berguna untuk menumbuhkan kesadaran diri (self awareness), penerimaan diri (self acceptance), menghargai diri sendiri (self respect), dan penguasaan diri (self mastery).
Contohnya ketika kita mengharapkan papa membelikan handphone tetapi papa tidak mengabulkannya. Pada masalah ini EQ personal kita bermain, seberapa besar kesadaran diri tentang manfaat handphone terhadap kita.

Kemudian ketika kita menyadari bahwa manfaatnya sangat kecil, kita mulai menerima keputusan papa tersebut. Dengan menerima hal itu pula, kita tidak akan merasa sebagai orang yang menyedihkan meskipun teman-teman kita memiliki handphone.
Sementara interpersonal adalah kemampuan memahami, menerima, mempercayai, dan mempengaruhi orang lain. Salah satu contoh adalah ketika kamu meminta saran dari teman dekatmu, temanmu itu akan memberikan tanggapannya. Tanggapannya itulah yang perlu kamu pahami dan terima dengan baik.

4. Pengertian Love Quotient (LQ)

Orang pintar adalah mereka yang memiliki IQ atau kecerdasan yang dikembangkan dengan baik. Tetapi jika orang-orang pintar itu ingin menjadi pemimpin yang baik, mereka juga membutuhkan EQ atau kecerdasan emosional, kemampuan untuk berempati dan mengekspresikan emosi. Namun menurut CEO Alibaba Jack Ma, Anda juga membutuhkan sesuatu yang ia sebut 'LQ'

"Jika Anda ingin dihormati, Anda membutuhkan LQ," pendiri dan ketua raksasa internet China itu mengatakan pada Forum Bisnis Global Bloomberg di New York awal pekan ini. “Dan apa itu LQ? Hasil dari cinta, yang mesin tidak pernah miliki. ”
"Sebuah mesin tidak memiliki hati, tidak memiliki jiwa, dan tidak memiliki keyakinan," katanya. “Manusia memiliki jiwa, memiliki keyakinan, memiliki nilai; kami kreatif, kami menunjukkan bahwa kami dapat mengontrol mesin. ”


Jumat, 17 Juli 2020

Tiga Faktor Proyeksi Pendidikan Abad 21 Menurut Anies Baswedan

Tiga Faktor Proyeksi Pendidikan Abad 21 

1. Karakter (Akhlak) 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Sedangkan menurut Doni Kusuma, pengertian karakter adalah sebuah gaya, sifat, ciri, maupun karakteristik yang dimiliki seseorang yang berasal dari pembentukan ataupun tempaan yang didapatkannya melalui lingkungan yang ada di sekitar. Sejalan dengan pengertian di atas, dalam pandangan Islam karakter sama dengan akhlak. Imam Ghazali memaknai akhlak sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan berbagai macam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. 
Berdasarkan dengan pemaparan tentang pengertian karakter di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sebuah sifat, perilaku dan budi pekerti yang telah tertanam dalam jiwa dan menjadi sebuah kebiasaan pada diri individu dalam berbuat atau berperilaku sehingga hal tersebut menjadi ciri khas dirinya.

a. Karakter Moral 

Iman 
Takwa 
Jujur 
Rendah 
Hati 

b. Karakter Kinerja 

Kerja Keras 
Ulet 
Tangguh 
Tak mudah menyerah 
Tuntas 

2. Kompetensi 

Menurut UU No. 13/2003 tentang ketenagakerjaan: pasal 1 (10) :”Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan”. Selanjutnya, Wibowo (2007:86), kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. 
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seorang individu untuk menjalani tugas dalam kehidupannya dengan bekal sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dalam pendidikan pada abad ini terdapat kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah menjalani proses pendidikan yaitu: 

Kritis 
Kreatif 
Komunikatif 
Kolaboratif 

3. Literasi (Keterbukaan Wawasan) 

Literasi menurut Kemendikbud (2016:2) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara. Seiring berjalannya waktu, kini literasi tidak hanya sekedar tentang aktivitas membaca dan menulis. Konsep literasi saat ini lebih berkembang meliputi aspek-aspek kehidupan. Semakin maju dan berkembang zaman akhirnya menghadirkan konsep literasi yang bermacam-macam mengikuti arus perubahan zaman. Ada enam komponen dasar literasi yaitu: 

a. Literasi Baca-Tulis 

Literasi Baca-Tulis sudah umum dikenal yaitu pemahaman dan kecakapan dalam membaca dan menulis berkaitan teks bacaan maupun lingkungan, pemahaman yang dimiliki tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

b. Literasi Numerasi 
Literasi numerasi merupakan pngetahuan dan kemamuan untuk mengaplikasikan symbol matematika dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari. Pada literasi numerasi juga adanya tuntutan pemahaman dan kecakapan dalam menganalisis informasi yang disajikan dalam bentuk rafik, table, bagan dan lain-lain. Secara sederhananya adalah kemampuan mengoperasikan keterampilan operasi hitung dalam kehidupan sehari-hari.  

c. Literasi Sains 

Standar Pendidikan Sains Nasional mendefinisikan literasi sains berarti bahwa seseorang dapat meminta, mencari, atau menentukan jawaban pertanyaan yang berasal dari rasa ingin tahu tentang pengalaman sehari-hari. Dalam hal ini seseorang dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki terkait tentang konsep dan proses sains mampu diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari untuk kebutuhan masyarakat. 

 d. Literasi Budaya dan Kewargaan 

Dalam Kemendikbud (2017:3) Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan demikian, literasi budaya dan kewaraan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa. 

e. Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 
Literasi TIK adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital, alat komunikasi dan atau jaringan dalam mendefinisikan, mengakss, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, menciptakan dan mengkomunikasikan informasi secara baik dan legal dalam rangka membangun masyarakat berpengetahuan. 

f. Literasi Keuangan 
Menurut Manurung (2009:24) literasi keuangan adalah seperangkat keterampilan dan pengetahuan yang memungkinkan eseorang individu untuk membuat keputusan dan efektif dengan semua sumber daya keuangan mereka. Dapat ditarik kesimpulan bahwa literasi keuangan ini berkaitan dengan kemampuan memanajemen atau mengelola sumber daya keuangan yang dimiliki. 

Dikutip dari https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=4902012438020768863#editor/target=post;postID=3685781693304573233